Kamis, 16 Mei 2013

SLB

 Pembelajaran di SLB A
Sekolah luar biasa A adalah sekolah yang hanya memberikan pelayanan pendidikan kepada anak berkebutuhan khusus yaitu hanya kepada anak tunanetra. Tunanetra adalah Individu yang mengalami hambatan dalam penglihatan atau ketidakberfungsian organ penglihatan.
Klasifikasi Tunanetra
      Klasifikasi anak tunanetra berdasarkan waktu terjadinya waktu terjadinya ketunanetraan,menurut lowenfeld :
1.      Tunanetra sebelum dan sejak lahir : dimana individu sama sekali tidak memiliki pengalaman penglihatan
2.      Tunanetra pada usia kecil : dimana individu telah memiliki kesan-kesan serta pengalaman visual tetapu belum kuat dan mudah terlupakan
3.      Tunanetra pada usia sekolah atau pada masa remaja :dimana individu telah memiliki kesan-kesan visual yang meninggalkan pengaruh mendalam terhadap proses perkembangan pribadi
4.      Tunanetra pada usia dewasa : dimana individu yang pada umumnya sudah mampu melakukan latihan-latihan penyesuaian diri.
5.      Tunanetra pada usia lanjut : dimana individu sebagian besar individu sudah sulit mengikuti latihan-latihan penyesuaian diri
6.      Tunanetra akibat bawaan (partial sight bawaan)
      Klasifikasi anak tunanetra berdasarkan kemampuan daya penglihatan
1.      Tunanetra ringan ( defective vision / low vision)
Yaitu individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan tetapi masih dapat mengikuti program-program pendidikan dan mampu melakukan pekerjaan/kegiatan yang menggunakan fungsi penglihatan
2.      Tunanetra setengah berat (partially sighted)
Yaitu individu yang kehilangan sebagian daya penglihatan, tetapi mampu mengikuti pendidikan biasa dengan menggunakan kaca pembesar ataupun hanya bisa membaca tulisan yang bercetak tebal.
3.      Tunanetra berat ( totally blind)
Yaitu individu yang sama sekali tidak dapat melihat.
Klasifikasi pada tunanetra dibuat berdasarkan :
      Segi Pendidikan
Menurut Hathaway, klasifikasi didasarkan dari segi pendidikan, yaitu :
§  Anak yang memiliki ketajaman penglihatan 20/70 atau kurang setelah memperoleh pelayanan medik.
§  Anak yang mempunyai penyimpangan penglihatan dari yang normal dan menurut ahli mata dapat bermanfaat dengan menyediakan atau memberikan fasilitas pendidikan yang khusus.
       Karakteristik Anak Tunanetra
a.       Fisik (Physical)
Gejala tunanetra yang dapat diamati dari segi fisik diantaranya :
ü  Mata juling
ü  Sering berkedip dan gerakan mata cepat
ü  Menyipitkan mata
ü  (kelopak) mata merah
ü  Mata infeksi dan selalu berair
ü  Pembengkakan pada kulit tempat tumbuh bulu mata.

b.      Perilaku (behavior)
Ada beberapa gejala tingkah laku yang tampak sebagai petunjuk dalam mengenal anak yang mengalami gangguan penglihatan secara dini :
ü  Menggosok mata secara berlebihan.
ü  Menutup atau melindungi mata sebelah, memiringkan kepala atau mencondongkan kepala ke depan.
ü  Sukar membaca atau dalam mengerjakan pekerjaan lain yang sangat memerlukan penggunaan mata.
ü  Berkedip lebih banyak daripada biasanya atau lekas marah apabila mengerjakan suatu pekerjaan.
ü   
c.       Psikis
                         I.            Mental / Intelektual
Intelektual atau kecerdasaran anak tunanetra pada umumnya tidak berbeda jauh dengan anak normal. Kecenderungan IQ anak tunanetra berada pada batas atas sampai pada batas bawah, sehingga ada anak tunanetra yang pintar, cukup pintar, dan tidak pintar. Intelegensi mereka lengkap yakni memiliki kemampuan dedikasi, analogi, asosiasi dan sebagainya. Mereka juga punya emosi negatif dan positif, seperti sedih, gembira, punya rasa benci, kecewa, gelisah, bahagia dan sebagainya.
                      II.            Sosial
Hubungan sosial yang pertama sekali terjadi pada anak adalah hubungan dengan anggota keluarga (ayah, ibu, saudara). Terkadang, ada orang tua yang tidak siap menerima kehadiran anak tunanetra, sehingga muncul ketegangan (masalah) dalam keluarga tersebut.
Tunanetra mengalami hambatan dalam perkembangan kepribadian dengan timbulnya beberapa masalah, yaitu:
1)      Curiga terhadap orang lain
2)      Perasaan mudah tersinggung
3)      Ketergantungan yang berlebihan
C.     Strategi Pembelajaran Anak Tunanetra
Permasalahan strategi pembelajaran dalam pendidikan anak tunanetra didasarkan pada dua pemikiran, yaitu :
1.      Upaya memodifikasi lingkungan agar sesuai dengan kondisi anak (di satu sisi).
2.      Upaya pemanfaatan secara optimal indera-indera yang masih berfungsi, untuk mengimbangi kelemahan yang disebabkan hilangnya fungsi penglihatan (di sisi lain).

      Prinsip-Prinsip Pembelajaran Anak Tunanetra
                         I.            Prinsip Individual
adalah prinsip umum dalam pembelajaran manapun (PLB maupun pendidikan umum) guru dituntut untuk memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan individu. Dalam pendidikan tunanetra, dimensi perbedaan individu itu sendiri menjadi lebih luas dan kompleks. Di samping adanya perbedaan-perbedaan umum seperti usia, kemampuan mental, fisik, kesehatan, sosial, dan budaya, anak tunanetra menunjukkan sejumlah perbedaan khusus yang terkait dengan ketunanetraannya (tingkat ketunanetraan, masa terjadinya kecacatan, sebab-sebab ketunanetraan, dampak sosial-psikologis akibat kecacatan, dll). Secara umum, harus ada beberapa perbedaan layanan pendidikan antara anak low vision dengan anak yang buta total. Prinsip layanan individu ini lebih jauh mengisyaratkan perlunya guru untuk merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan keadaan anak. Inilah alasan dasar terhadap perlunya (Individual Education Program – IEP).

Alat Pendidikan
Alat pendidikan bagi tunanetra terdiri dari alat pendidikan khusus, alat bantu, dan alat peraga:
  • Alat pendidikan khusus: reglet dan pena, mesin tik brailer, printer brailer, abacus
  • Alat bantu : alat bantu perabaan (buku-buku) dan alat bantu pendengaran (kaset,CD,talkingbooks)
  • Alat peraga : alat peraga tactual atau audio yaitu alat peraga yang dapat diamati melalui perabaan atau pendengar
Tenaga pendidikan yang dibutuhkan antara lain:
  • Guru
  • Psikolog
  • Dokter mata
  • Optometris
Metode yang dipakai adalah metode tematik integrative

Pembelajaran di SLB B

·         Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dengan bobot yang berbeda dan disesuaikan dengan ketunaannya, hal ini disebabkan karena SLB berbeda dengan sekolah reguler dari segi akademisnya, sosialnya, dan banyak hal yang membuat anak-anak yang sekolah di SLB itu berbeda dengan anak-anak yang bersekolah di sekolah reguler. RPP yang digunakan di SLB sama dengan RPP yang ada di sekolah regular namun disesuaikan dengan kondisi setiap kelas, dimana ada tiga kriteria yang dimiliki oleh anak yaitu total, sedang, dan ringan. Keberhasilan yang dicapai oleh setiap anak pun berbeda, ada yang bisa menangkap dalam waktu 1 hari, seminggu, sebulan bahkan tahunan tergantung kemampuan anak tersebut dalam menangkap materi pembelajaran.

·         Di SLB B layanan pendidikan yang digunakan yaitu lebih banyak menggunakan layanan face to face (tatap muka) karena di SLB tidak mungkin menggunakan sistim klasikal, hal itu disebabkan oleh SLB menangani anak yang berkebutuhan khusus perlu penanganan khusus dan yang lebih banyak diterapkan yaitu bimbingan perseorangannya. Jika  di sekolah reguler, guru bisa sambil menulis, berbicara membelakangi siswa. Sedangkan jika dibandingkan dengan SLB B guru tidak bisa melakukan hal yang sama dengan guru di sekolah reguler seperti sambil menulis, berbicara membelakangi siswa harus langsung bertatap muka kemudian mimiknya bagaimana, ucapannya bagaimana banyak hal yang harus diperhatikan untuk melayani mereka pengenalan terhadap sesuatu itu yang sulit. Pada tiap kelas juga disediakan cermin yang berfungsi untuk melatih anak dalam artikulasi (gerak bibir). Lampu di setiap kelas selalu dinyalakan dengan tujuan anak dapat dengan jelas membaca mimik guru pada saat menjelaskan materi pelajaran.

·         Jumlah siswa di setiap kelas di SLB-B tidak sama, antara 4 sampai 6 orang. Usia siswa di masing-masing kelas juga berbeda-beda tergantung dari kemampuan siswa. Siswa yang memiliki kemampuan lebih cepat menangkap materi pelajaran akan ditempatkan di kelas akselerasi (percepatan).

·         Metode yang digunakan di SLB-B dengan di sekolah regular berbeda, disesuaikan dengan materi dan tingkat kemampuan anak. Sebagian besar anak SLB-B tidak bisa baca tulis, namun anak mengetahui maksud yang guru sampaikan seperti jika guru menyuruh anak untuk mengambil sesuatu, guru akan memberitahu anak dengan menggunakan bahasa isyarat, anak akan mengerti dan langsung mengambil barang yang dimaksudkan.

·         Mengenai buku pelajaran yang digunakan, SLB-B menggunakan buku BSE sama dengan buku sekolah regular, namun tidak semua materi digunakan. SLB-B hanya mengambil materi-materi pelajaran yang sifatnya umum.

·         Teknik Assessment SLB B yang digunakan adalah sistem assessment secara individual yaitu mengadakan ulangan harian, ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester. Rangkaian Assessmen dilakukan melalui ulangan sehari-hari, ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester secara klasikal dan individual melalui pengembangan program sesuai dengan kurikulum yang digunakan di SLB tersebut.

·         Mengenai ekstrakulikuler yang diterapkan disekolah SLB B, terdapat beberapa ekstrakurikuler yang diberikan atau dilatihkan pada anak yaitu pramuka, tari, olahraga seperti sepakbola dan senam, komputer (IT), kerajinan tangan seperti menjahit dan sablon.

Pembelajaran di SLB C/C1

Seperti namanya, pendidikan tunagrahita, maka pendidikan ini diberikan bagi anak tunagrahita. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan tunagrahita itu? Tunagrahita adalah individu yang memiliki intelegensi yang signifikan berada di bawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi perilaku yang muncul dalam masa perkembangan, mereka juga tidak dapat mencapai kemandirian yang sesuai dengan ukuran (standar) kemandirian dan tanggung jawab sosial. Anak tunagrahita juga mengalami masalah dalam keterampilan akademik dan berpartisipasi dengan kelompok teman yang memiliki usia sebaya. Banyak yang menyatakan bahwa anak tunagrahita sama dengan anak yang mengalami retardasi/keterbelakangan mental.
Umumnya, anak tunagrahita dapat dicirikan sebagai berikut:
a.       Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/ besar;
b.      Pandangan kosong;
c.       Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usianya;
d.      Perkembangan berbicara/bahasa terlambat;
e.       Perhatian yang sangat kurang terhadap lingkungan dan kurang peka;
f.       Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali); dan
g.      Sering mengeluarkan ludah (ngiler).
Berdasarkan skor intelegensi (IQ), anak tunagrahita dibadi menjadi 3, yaitu:
a.       Tunagrahita ringan (IQ antara 51-70)
b.      Tunagrahita sedang (IQ antara 36-51)
c.       Tunagrahita berat (IQ ≤ 20)
Namun dalam pendidikan, anak tunagrahita dikelompokkan ke dalam dua kategori:
a.       Anak tunagrahita yang masuk SLB C
·         Anak yang memiliki IQ antara 50-70;
·         Anak mampu didik;
·         Anak dapat dimasukkan ke kelas khusus maupun reguler;
·         Kemampuan setara anak normal umur 8-12 tahun;
·         Dapat membaca, menulis, berhitung sederhana, dan melakukan aktivitas lain.
b.      Anak tunagrahita yang masuk SLB C1
·         Anak yang memiliki IQ antara 25-49;
·         Anak mampu latih;
·         Jumlah siswa maksimal 10 orang per kelas;
·         Kemampuan setara anak normal umur 3-8 tahun;
·         Perlu latihan rutin dan berkesinambungan untuk dapat melakukan aktivitas;
·         Hanya sebagian kecil yang dapat membaca, menulis, dan berhitung;
·         Kemampuan intelektual lebih terbatas;
·         Mereka dapat diajarkan kemampuan mengurus diri dan keahlian tertentu.
Anak tunagrahita harus diberikan pembelajaran yang intens karena mereka memang membutuhkan sistem pembelajaran yang  kontinu dan konsisten. Disamping itu, pembelajaran yang intensif juga sangat penting bagi mereka karena dapat mendukung mereka dalam mendapatkan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan mereka.
Dalam keberhasilannya, pendidikan bagi anak tunagrahita dipengaruhi oleh beberapa komponen seperti guru, siswa, sarana dan prasarana, kurikulum, dan sebagainya. Adapun teori yang dapat diterapkan oleh sekolah-sekolah bagi anak tunagrahita (dan anak spesial lainnya) ialah sebagai berikut:
a       Teori motivasi
Motivasi yang diberikan dapat berupa reward (hadiah, pujian, dan sebagainya) maupun dorongan dari guru.
        Teori belajar dan tingkah laku
Guru dapat menerapkan strategi pembelajaran yang mampu mengoptimalkan interaksi siswa dengan lingkungan  sekitarnya (guru-murid, siswa-lingkungan, dan sebagainya).

Pembelajaran di SLB D/D1
A.   PENGERTIAN
SLB D
Yang dimaksud dengan sekolah luar biasa D adalah sekolah yang menangani anak-anak Tunadaksa/cacat fisik yang memiliki tingkat kecerdasannya sama dengan anak normal.
Sehingga anak-anak ini diharapkan dapat memasuki sekolah umum setelah lulus dari sekolah dasar.
Anak-anak luar biasa bagian D apabila secara psikologis telah dapat menerima lingkungan sekitar , berintegrasi lebih awal lebih baik ditinjau dari psikologi dan sosial anak.
SLB D1
Sekolah yang melayani anak-anak Tunadaksa yang memiliki tingkat kecerdasan dibawah rata-rata anak normal , sehingga dibutuhkan pengajaran khusus
B. PENDIDIKAN YANG IDEAL BAGI ANAK TUNADAKSA
Tujuan pendidikan anak Tunadaksa bersifat ganda (dual purpose), yaitu yang berhubungan dengan aspek rehabilitasi pemulihan dan pengembangan fungsi fisik, dan yang berkaitan dengan pendidikan yang mengacu pada tujuan pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik .
Adapun prinsip dasar program pendidikannya meliputi:
1. Keseluruhan anak (All the children)
2. Kenyataan (Reality)
3. Program yang dinamis (A dynamic program)
4. Kesempatan yang sama (Equality of opportunity)
5. Kerjasama (Cooperative)


Sedangkan prinsip khusus
Pendidikannya terdiri dari prinsip multisensori dan prinsip individualisasi.
Multisensori berarti banyak indera, maksudnya dalam proses pendidikan pada anak tunadaksa sedapat mungkin memanfaatkan dan mengembangkan indera-indera yang ada dalam diri anak agar kesan pendidikan yang diterimanya lebih baik.
Prinsip individualisasi berarti kemampuan masing-masing diri individu lebih dijadikan titik tolak dalam memberikan pendidikan pada mereka. Model layanannya dapat berbentuk individual dan klasikal pada individu yang cenderung memiliki kemampuan yang hamper sama, bahan pelajaran yang diberikan pada siswa sesuai dengan kemampuan masing-masing anak.
 Layanan pendidikan untuk anak Tunadaksa dapat dilakukan dengan pendekatan guru kelas, guru mata pelajaran/bidang studi, campuran dan pengajaran tim.
a)      Pembelajaran di sekolah idealnya sebagai berikut:

b)      Perencanaan kegiatan belajar mengajar: Program pendidikan yang diindividualisasikan

c       Prinsip Pembelajaran: Prinsip multisensori dan prinsip individualisasi

        Penataan Lingkungan Belajar
Bangunan gedung memprioritaskan tiga kemudahan:
·         mudah keluar masuk,
·         mudah bergerak dalam ruangan, dan
·         mudah mengadakan penyesuaian.
e      Personil:
guru PLB, guru regular, dokter ahli anak, dokter ahli rehab medis, dokter ahli    ortopedi , dokter  ahli syaraf , psikolog, guru BP, social worker, fisioterapist, occupational therapist, speechterapist, orthotic dan prosthetic.
f)   Bimbingan Belajar
Anak Tunadaksa memerlukan bimbingan belajar membaca, menulis, dan berhitung. Ketiga      kemampuan dasar ini perlu memperoleh layanan sedini mungkin sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak, manakala telah memasuki program sekolah dasar.

g)  Pembinaan Karier dan Pekerjaan
    Untuk mempersiapkan masa depan anak, di sekolah perlu adanya pembinaan karier. Pengertian karier tidak dipandang hanya sebagai pekerjaan yang diberikan pada tamatan sekolah menengah atas, tetapi dibutuhkan oleh semua siswa sejak Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi. Pada jenjang TKLB dan SDLB materi pembahasannya adalah untuk memberikan pengertian dasar mengenai kemungkinan pekerjaan dalam hidup kelak dan memberikan kesadaran bahwa sekolah memberi kesempatan untuk bereksplorasi dalam mempersiapkan kehidupan kelak; sedangkan pada tingkatan yang lebih tinggi selain melanjutkan materi tersebut telah diarahkan pada prevokasional maupun vokasional.
   Pembinaan karier dan pekerjaan dimulai dari kegiatan asesmen karir dan pekerjaan agar dapat menyusun program pembinaan karir dan vokasional yang sesuai dengan kondisi kemampuan dan kecacatan anak tunadaksa.
   Berkaitan dengan penyusunan program, Philip (1986) mengemukakan bahwa program yang disusun harus berbentuk IEP (Individualized Educational Program) yang mempunyai ciri-ciri sasaran untuk remidi bila siswa mengalami kesulitan dalam membaca formulir pekerjaan, berkomunikasi dengan menggunakan telepon, penggunaan uang dalam pekerjaan, dll. Salah satu contoh pogram IEP adalah pengembangan motorik halus untuk pekerjaan menjahit, pertanaman, mengatur makanan, dll.

Alur pembinaan karier dan pekerjaan dapat disajikan seperti berikut:
Asesmen → pemograman → proses → evaluasi → daya guna/tepat guna

Adapun Frances P. Connor (1995) mengemukakan sekurang-kurangnya ada 7 aspek yang perlu dikembangkan pada diri masing-masing anak Tunadaksa melalui pendidikan, yaitu:
(1) pengembangan intelektual dan akademik,
(2) membantu perkembangan fisik,
(3) meningkatkan perkembangan emosi dan penerimaan diri anak,
(4) mematangkan aspek sosial,
(5) mematangkan moral dan spiritual,
(6) meningkatkan ekspresi diri, dan
(7) mempersiapkan masa depan anak.

Pembelajaran di SLB E
SLB E adalah sekolah untuk anak-anak yang mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi (Tuna Laras). Anak Tuna Laras pada umumnya sama dengan anak normal lainnya, hanya saja mereka kesulitan dalam hal pengendalian emosi.
Dalam SLB E, yang paling diutamakan adalah pembelajaran untuk mengendalikan emosi si anak. Hal ini dikarenakan permasalahan utama anak Tuna Laras adalah dalam pengendalian emosinya. Emosi anak Tuna Laras tidak stabil sehingga mereka sulit untuk tenang dan diarahkan. Oleh karena itu dalam SLB E ini mereka dilatih untuk lebih tenang dan lebih sabar dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari.
Metode yang cukup efektif dalam permasalahan ini adalah dengna pemberian tugas yang melatih kesabaran seperti menyusun puzzle, meronce, bermain Lego, mewarnai, dan lain sebagainya. Dengan pelatihan seperti itu, anak diharapkan dapat lebih bersabar dan emosi mereka lebih terkendali. Selain itu para pengajar harus memahami kondisi si anak, dan bagaimana keadaan si anak dengan cara mendengarkan keinginan si anak serta mengarahkannya. Pemberian reward atas hal positif yang dilakukan anak dapat mengarahkan tindakan si anak.

Pembelajaran di SLB G
SLB G adalah sekolah yang menangani anak-anak yang mengalami gangguan ganda. Gangguan ganda tersebut dapat berupa gangguan fisik maupun gangguan mental. Oleh karena itu metode pembelajaran yang diterapkan haruslah lebih kompleks daripada metode pembelajaran yang terdapat di jenis SLB lainnya. Penggabungan metode pembelajaran dari setiap jenis SLB sangat dibutuhkan dalam SLB G ini. Setiap metode yang dilakukan memiliki peran masing-masing dalam perkembangan anak-anak yang mengalami gangguan ganda tersebut. Sama seperti di jenis SLB lainnya, di SLB G ini juga perlu dilakukan pelatihan fisik maupun pelatihan mental. Cara pengajar dalam memahami dan mengajari anak juga harus diperhatikan. Pengajar harus mampu mengenal dan memahami masing-masing anak karena setiap anak pastilah memiliki kebutuhan yang berbeda-beda

Kamis, 25 April 2013

Pendidikan Anak Usia Dini


PAUD
Hakekat Anak  Usia Dini
·         Lahir-8tahun
·         Proses tumbuh &kembang bersifat unik
·         Proses tumbuh & kembang diarahkan pada peletakan dasar yang tepat

Pengertian PAUD
PAUD adalah “Suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui  pemberian  rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmanai dan rohani agar ank memiliki kesiapan dalam memasukipendidikan lebih lanjut”

Ketentuan mengenai PAUD
1.      PAUD diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
2.      PAUD dapat diselanggarakan melalui jalur pendidikan formal,nonformal dan informal.
3.      PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk:taman kanak-kanak dan bentuk sederajat
Pada jalur pendidikan nonformal berbentuk:kelompok bermain dll
Pada jalur pendidikan informal berbentuk:pendidikan dalam keluarga.

Mengapa pendidikan anak usia dini itu sangat penting?
Berdasarkan hasil penelitian sekitar 50% kapabilitaas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun,8 0% telah terjadi perkembangan yang pesat tentang jaringan otak ketika anak berumur 8 tahun dan mencapai puncaknya ketika anak berumur 18 tahun, dan setelah itu walaupun dilakukan perbaikan nutrisi tidak akan berpengaruh terhadap perkembangan kognitif.

        Perkembanagn dari PAUD ini di Indonesia terbilang baru,tetapi kemunculan dari lembaga-lembaga PAUD seperti dengan bermunculannya tempat penitipan anak, ataupun kelompok bermain ini dapat dikatakan pesat dalam pertumbuhannya, yang didukung oleh kesadaran orangtua akan pentingnya pendidikan di usia dini orang tua tidak perlu lagi ragu untuk menitipkan ataupun mendaftarkan anak-anak mereka di lembaga-lembaga resmi pengajaran pembelajaran usia dini ini.Dimana pendidikan usai dini ini bukan hanya di dapat dari lembaga formal ataupun nonformal tetapi juga bisa di dapat dari jalur informal seperti pengajaran dalam keluarga ataupun pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.
                 

Kepribadian Ganda

Mungkin tidak ada orang yang benar-benar bisa memahami masalah kepribadian ganda. Sebelum abad ke-20, gejala psikologi ini selalu dikaitkan dengan kerasukan setan. Namun, para psikolog abad ke-20 yang menolak kaitan itu menyebut fenomena ini dengan sebutan Multiple Personality Disorder (MPD). Berikutnya, ketika nama itu dirasa tidak lagi sesuai, gejala ini diberi nama baru, Dissociative Identity Disorder (DID).

DID atau kepribadian ganda dapat didefinisikan sebagai kelainan mental dimana seseorang yang mengidapnya akan menunjukkan adanya dua atau lebih kepribadian (alter) yang masing-masing memiliki nama dan karakter yang berbeda.

Mereka yang memiliki kelainan ini sebenarnya hanya memiliki satu kepribadian, namun si penderita akan merasa kalau ia memiliki banyak identitas yang memiliki cara berpikir, temperamen, tata bahasa, ingatan dan interaksi terhadap lingkungan yang berbeda-beda.

Walaupun penyebabnya tidak bisa dipastikan, namun rata-rata para psikolog sepakat kalau penyebab kelainan ini pada umumnya adalah karena trauma masa kecil.

Untuk memahami bagaimana banyak identitas bisa terbentuk di dalam diri seseorang, maka terlebih dahulu kita harus memahami arti dari Dissociative (disosiasi).

Disosiasi
Pernahkah kalian mendapatkan pengalaman seperti ini: Ketika sedang bertanya mengenai sesuatu hal kepada sahabat kalian, kalian malah mendapatkan jawaban yang tidak berhubungan sama sekali.

Jika pernah, maka saya yakin, ketika mendapatkan jawaban itu, kalian akan berkata "Nggak nyambung!".

Disosiasi secara sederhana dapat diartikan sebagai terputusnya hubungan antara pikiran, perasaan, tindakan dan rasa seseorang dengan kesadaran atau situasi yang sedang berlangsung.

Dalam kasus DID, juga terjadi disosiasi, namun jauh lebih rumit dibanding sekedar "nggak nyambung".

Proses terbentuknya kepribadian ganda
Ketika kita dewasa, kita memiliki karakter dan kepribadian yang cukup kuat dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan. Namun, pada anak yang masih berusia di bawah tujuh tahun, kekuatan itu belum muncul sehingga mereka akan mencari cara lain untuk bertahan terhadap sebuah pengalaman traumatis, yaitu dengan Disosiasi.

Dengan menggunakan cara ini, seorang anak dapat membuat pikiran sadarnya terlepas dari pengalaman mengerikan yang menimpanya.

Menurut Colin Ross yang menulis buku The Osiris Complex (1995), proses disosiasi pada anak yang mengarah kepada kelainan DID terdiri dari dua proses psikologis. Kita akan mengambil contoh pelecehan seksual yang dialami oleh seorang anak perempuan.

Proses Pertama: anak perempuan yang berulang-ulang mengalami penganiayaan seksual akan berusaha menyangkal pengalaman ini di dalam pikirannya supaya bisa terbebas dari rasa sakit yang luar biasa. Ia bisa mengalami "out of body experience" yang membuat ia "terlepas" dari tubuhnya dan dari pengalaman traumatis yang sedang berlangsung. Ia mungkin bisa merasakan rohnya melayang hingga ke langit-langit dan membayangkan dirinya sedang melihat kepada anak perempuan lain yang sedang mengalami pelecehan seksual. Dengan kata lain, identitas baru yang berbeda telah muncul.

Proses Kedua, sebuah penghalang memori kemudian dibangun antara anak perempuan itu dengan identitas baru yang telah diciptakan.

Sekarang, sebuah kesadaran baru telah terbentuk. Pelecehan seksual tersebut tidak pernah terjadi padanya dan ia tidak bisa mengingat apapun mengenainya.

Apabila pelecehan seksual terus berlanjut, maka proses ini akan terus berulang sehingga ia akan kembali menciptakan banyak identitas baru untuk mengatasinya. Ketika kebiasaan disosiasi ini telah mendarah daging, sang anak juga akan menciptakan identitas baru untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan pengalaman traumatis seperti pergi ke sekolah atau bermain bersama teman.

Salah satu kasus kepribadian ganda yang ternama, yaitu Sybil, disebut memiliki 16 identitas yang berbeda.

Menurut psikolog, jumlah identitas berbeda ini bisa lebih banyak pada beberapa kasus, bahkan hingga mencapai 100. Masing-masing identitas itu memiliki nama, umur, jenis kelamin, ras, gaya, cara berbicara dan karakter yang berbeda.

Setiap karakter ini bisa mengambil alih pikiran sang penderita hanya dalam tempo beberapa detik. Proses pengambilalihan ini disebut switching dan biasanya dipicu oleh kondisi stres.

Ciri-ciri pengidap kepribadian ganda
Ketika membaca paragraf-paragraf di atas, mungkin kalian segera teringat dengan salah seorang teman sekolah kalian yang suka mengubah-ubah penampilannya. Bagi kalian, sepertinya ia memiliki identitas yang berbeda.

Atau mungkin kalian teringat dengan salah seorang teman kalian yang biasa tersenyum, namun secara tiba-tiba bisa dikuasai oleh emosi. Ketika amarahnya meledak, kalian bisa melihat wajahnya tiba-tiba berubah menjadi seperti "serigala". Bagi kalian, sepertinya identitas baru yang penuh amarah telah menguasainya.

Apakah mereka pengidap DID?

Bagaimana cara kita mengetahuinya?

Jawabannya adalah pada identitas yang menyertai perubahan penampilan atau emosi tersebut.

Misalkan teman kalian yang suka mengubah penampilan atau sering mengalami perubahan emosi tersebut bernama Edward. Jika ia mengubah penampilan atau mengalami perubahan emosi dan masih menganggap dirinya sebagai Edward, maka ia bukan penderita DID.


Untuk mengerti lebih dalam bagaimana cara membedakannya, lihat empat ciri di bawah ini. Jika di dalam diri seseorang terdapat empat ciri ini, maka bisa dipastikan kalau ia mengidap DID atau kepribadian ganda.

Ciri-ciri tersebut adalah:

  1. Harus ada dua atau lebih identitas atau kesadaran yang berbeda di dalam diri orang tersebut.
  2. Kepribadian-kepribadian ini secara berulang mengambil alih perilaku orang tersebut (Switching).
  3. Ada ketidakmampuan untuk mengingat informasi penting yang berkenaan dengan dirinya yang terlalu luar biasa untuk dianggap hanya sebagai lupa biasa.
  4. Gangguan-gangguan yang terjadi ini tidak terjadi karena efek psikologis dari substansi seperti alkohol atau obat-obatan atau karena kondisi medis seperti demam.
Dari empat poin ini, poin nomor 3 memegang peranan sangat penting.
98 persen mereka yang mengidap DID mengalami amnesia ketika sebuah identitas muncul (switching). Ketika kepribadian utama berhasil mengambil alih kembali, ia tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi ketika identitas sebelumnya berkuasa.

Walaupun sebagian besar psikolog telah mengakui adanya kelainan kepribadian ganda ini, namun sebagian lainnya menolak mengakui keberadaannya.

Pendidikan Anak Prasekolah


PAPS & PAUD
Pendidikan anak prasekolah.Samakah Pendidikan anak prasekolah dengan Pendidikan anak  usia dini?
PAPS
Sejarah terbentuknya sistem PAPS  
Bermula dari Friedrick Froebel (1837) yang membuka sekolah Taman Kanak-kanak untuk pertamakalinya di Jerman,sehingga beliau dijuluki sebagai Ayah pendidikan anak usia bayi dimana dalam pendidikan taman kanak-kanak menggunakan metode yang mengikuti sifat anak-anak yang gemar bermain dan juga cara anak untuk meniru kehidupan orang dewasa dengan wajar.Dimana guru bertanggung jawab dalam membimbing dan mengarahkan anak didiknya. 


Dalam pengembangan PAPS banyak tokoh-tokoh lain yang bermunculan seperti :


John Dewey dimana ia berpengaruh dalam pendidikan di Amerika .Beliau menciptakan istilah “progressivism yang menekankan pada anak didik dan minat pada anak daripada matapelajaran sendiri.Sehingga muncullah istilah “child centered curriculum”dan “child centered school” .Diaman dewey berpendapat bahwa sekolah itu sebaiknya mempersiapkan anak guna meenghadapi kehidupan masa kini bukan masa dating yang belum jelas.Suasana kelas yang mengikuti ide dewey anak-anak  akan beradaptasi dalam kegiatan fisik, yang tercermin dalam kegiatan lari,melompat. 


Montesorri beliau memiliki pemiliran yang banyak membawa pengaruh di seluruh dunia samapai saat ini.Beliau memiliki pemikiran yan g sama akan Froebel diaman ia memandang perkembangan anak usia dini sebagai suatu proses berkesinambungan.Hanya  saja beliau memfokuskan pengembangan seluruh indra sehingga dapat menemukan hal-hal yang bersifat ilmu pengetahuan.Bagaimanapun Montesori tidak terlepas dari adanya kritikan diaman kurang adanya penekanan akan pengembangan bahasa dan sosial dan adanya program Montesorri yang kurang menekankan pada perkembangan kreativitas,musick,seni karena program beliau yang bersifat tradisional.


Tidak ingin ketinggalan ada juga tokoh dari negri kita sendiri Indonesia yang juga memiliki pemilkran mengenai pendididkan anak usia dini.Beliau adalah Ki Hajar Dewantara yang banayak dipengaruhi oleh Freobel dan Montesorri.Beliau mengciri khaskan  pendidikan anak usia dini adalah Budi Pekerti dan belajar among.Inti belajar among: 


·           Ing ngarso sing tulodo (pendidikan berada didepan wajib memberikan teladan bagi anak didik)
·           Ing madya mangun karso (pendidikan berada di tengah-tengah harus lebih banyak membangkitkan kemauan sehingga anak mempunyai kesempatan untuk berbuat sendiri)
·           Tut wuri handayani (pendidikan dibelakang wajib memberikan dorongan dan memantau agar anak mampu bekerja sendiri)

Definisi Pendidikan Anak Prasekolah


  • Menurut Undang-Undang RI Nomor 2 1989 mengenai Sistem Pendidikan Nasioanal,Pasal 12 Ayat 2menyebutkan bahwa pendidikan anak prasekolah adalh pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan pribadi , pengetahuan dan keterampilan yang melandasi  pendidikan dasar serta mengembangkan secara utuh sesuai dengan asas pendidikan sedini mungkin seumur hidup.

  • Biechler dan Snowman  anak prasekolah  adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun.

  • The National Association for The Educatioan istilah preschool adalah ana usia “toodler” dan usia amsuk kelas 1.

Ruang Lingkup Usia Dini
·         Bayi                             (lahir-12bulan)
·         Toodler                        (1-3tahun)
·         Pra Sekolah                 (3-6tahun)
·         Awal SD                      (6-8tahun)


Pengembangan  PAPS sendiri  di Indonesia cukup dipandang dan orangtua mulai menyadari bahwa pendidikan anak di usia dini itu sangat membantu dalam proses tumbuh kembangnya. Sesuai dengan teori-teori yang telah dikemukakan para tokoh sebelumnya dimana pendidikan usia dini dapat membantu pengembanagn sang anak baik dari segi fisik seperti pendapat Dewey, pengembangan seluruh indra untuk memperoleh ilmu  menurut Montesorri dan belajar among yang bentuknya bukan matapelajaran, tetapi penanaman nilai,martabat kemanusaiaaan ,nilai moral watak , dan pengembangan kepribadaian pada akhirnya oleh Ki Hajar Dewantara.